Minggu, 18 Februari 2018

FILSAFAT: 6 MAZHAB MANAJEMEN DARI ZAMAN KE ZAMAN




Penghargaan Tinggi dan Terima kasih sebesarnya Spesial Kepada,
Ibu dan Bapak tercinta, Keluarga yang luar biasa, Ibu dan Bapak guru dalam lembaga formal sedari TK, SD, MTs, SMA, kawan seperjuangan yang sedang dan akan terus berjuang bersama, kakak terbaik yang terus menginsipiratif adiknya, adik yang terus menginspiratif kakaknya, dan pembaca yang dirahmati oleh Tuhan YME [Allah Swt]. Semoga tulisan kecil ini kiranya mengandung hal yang bermakna dan bernilai manfaat sebagai bentuk syukur dan terima kasih penulis atas keagungan-Nya sang pemilik Pengetahuan yang mendikte umatnya secara langsung melalui perantaraan-Nya. 

-----------------------------



Zaman berubah, Ilmu pengetahuan berubah, pemimpin di kelompoknya pun berubah dan hal - hal yang semula dipersepsikan rigid dan lestari pun terus mengalami proses evolusi secara pasti. Sulit memang untuk membendung dan menolaknya. Mengutip sedikit pesan khas yang cukup paling populer dari John F. Kennedy salah satu tokoh inspiratif dunia, pernah mengatakan " THE CHANGE IS THE LAW OF LIFE". Semua akan mengalaminya dalam tiap proses yang dilalui baik suka ataupun tidak, dan baik siap ataupun tidak. Semua akan mengalaminya.

Manusia yang menyandang gelar kehormatan sebagai makhluk emosional, sosial dan intelektual sebagai pembeda antara manusia dengan binatang, niscaya selalu memiliki karakteristik yang menarik untuk dibahas dalam setiap diskusi - diskusi resmi atau non resmi. Dengan sifat keunikannya tersebut itulah kiranya tidak pernah ada rasa jemu untuk membahasnya dari berbagai sudut pandang yang mendorong pencerahan. Dalam perspektif filsafat manusia tentang proses - proses yang terjadi dalam siklus kehidupan manusia, sejak dalam kandungan hingga wafat.  Ternyata semua ialah tentang upaya mengamati, menginternalisasikan atau memahami [inovasi] yang kemudia dieksekusi melalui penetapan prioritas bertindak sebagai kesatuan serangkaian proses belajar atau berpikir. 

Idealnya, begitulah tahapan yang terjadi. Manusia selalu menjadi subjek kunci pembelajar, pembelajar, pembelajar dan pengajar dalam konsep universitas kehidupan. Semua murid, semua guru. Kemudian, yang menariknya lagi ialah timbul pertanyaan kritis kalau semua murid dan semua guru, terus untuk apa diadakannya pembelajaran di Lembaga - lembaga pendidikan resmi? Jawaban paling rasional, ialah dalam konteks segala aktifitas intelektual yang sangat abstrak. Agar bisa memahami maksud dan menjamin mutu aktifitas penalarannya maka perlu adanya standardisasi pengetahuan. Tapi, sangat disayangkan. Lembaga pendidikan yang seharusnya mendorong aktifitas intelektual belakangan ini mulai bergeser kepada aktifitas memesinkan pola pikir dan tindakan manusia. 

Ketika, tidak memiliki kuasa untuk melawan kuatnya sistem yang bekerja. Akhirnya tunas - tunas harapan Bangsa akan menjadi objek nyata yang dikenal dengan sebutan manusia, namun sejatinya jiwa dan pola pikirnya dipenjarakan secara paksa atas kepentingan pihak yang lebih berkuasa atas pihak yang lemah. Jelas,ini adalah upaya terstruktur, sistematis dan massif yang menciderai hak azasi manusia untuk berkembang dan melampaui puncak aktualisasi dirinya. 

Hal yang dipaparkan di atas, sering sekali terjadi pada siapa pun, kapan pun dan dimana pun. 

Kemudian muncul kembali pertanyaan, mengapa hal itu bisa sampai terjadi? 

Analisis - analisis kecil pun dilakoni untuk menjawab pertanyaan tersebut, satu hari berlalu, dua hari  berlalu, tiga hari berlalu dan seterusnya. Barulah didapatkan sebuah sintesa objektif dari sebuah buku yang berjudul "MENJADI SENIMAN ORGANISASI ; Seni Mengelola Industry Health Care" Karangan Prof. dr. Ahmad Sujudi, M.H.A. [Menteri Kesehatan RI, 1999 - 2004] yang cukup banyak mengupas tentang hal - hal mendasar dalam memahami dan mengawal produktifitasnya organisasi. 

Dalam bukunya, beliau menjelaskan banyak hal menarik dalam organisasi. Karena organisasi berasal dari kata organ, organism dan / atau organize yang mengandung makna luas yakni tempat perkumpulan orang - orang yang memiliki kesamaan pandang dalam usaha bersama meraih dan melampaui visi atau tujuan organisasi. Diskursus - diskursus tentang organisasi banyak terjadi dimana - mana. Mengupas tantangan, faktor - faktor yang menghambat kemajuan, faktor leadership pemimpinnya, dan juga faktor desain tubuh organisasi yang bersangkutan.  

Rasanya, aroma seni tidak bisa terlepas dari apa yang namanya organisasi. Seni adalah keharusan yang menjadi faktor penting dalam suksesnya organisasi. Seni bukanlah menjadi tanggung jawab pemimpin semata, semua berperan sesuai porsi dan passionnya dengan prinsip saling menghormati yang tinggi pada sesama. Bagaimanapun kerasnya berusaha, kalau tidak didukung oleh ketepatan keputusan dalam mengelola organisasi tentu akan berakibat fatal dalam jangka panjang. Olehnya, keputusan - keputusan strategis, ideologi dan paradigma decision maker menjadi faktor sangat penting dalam menentukan organisasi.  

    
Memadukan antara filsafat administrasi karangan Prof. Siagian dengan Filsafat manajemen dari Prof. dr. Ahmad Sujudi, M.H.A. Didapatkan 6 mazhab / aliran manajemen atau upaya mengelola sumberdaya yang menjadi rujukan oleh siapapun dari zaman ke zaman. 

1. Filsafat Mekanik.

Pemimpin yang menganut filsafat atau ideologi ini dalam mengelola organisasinya. Umumnya, membunuh nilai - nilai kemanusiaan. Hanya berfokus pada capaian target yang ambisius. Memerintah seenaknya, mempekerjakan manusia dai atas ambang batas yang rasional dalam bekerja, menekan orang lain dengan paksaan [punishment]. Semua elemen harus bekerja sesuai irama yang sesuka hatinya, yang berdampak pada memesinkan manusia. 

Lazimnya kasus ini terdapat pada pemimpin berideologi otoriter secaran pikiran dan tindakan atau karakteristik khas yang berada pada pemimpin yang timpang insight dan timpang keberaniaan bertindak dalam komunikasi. 

Misalnya; Perusahaan komersial milik individu atau grup yang mempekerjakan buruh lepas dalam aktifitas bisnisnya dalam waktu harian. Ya kalo kamu sakit, atau meninggal sekali pun kan sudah saya bayar harian keringatmu itu. Yang penting, maksimalkan efisiensi. Selesai urusan kita.  

2. Filsafat Sistem.

Salah satu aliran filsafat manajemen yang hampir memiliki kemiripan dengan Filsafat Mekanik. Model paradigma ini cukup populer dalam bentuk organisasi apapun yang berorientasi atau berkiblat pada sebuah siklus yang bekerja Input - Proses- Output. Untuk menghasilkan suatu produk / karya. Terdiri dari berbagai subsistem - subsistem yang kompleks dalam kesatuan makrosistem. 

Umumnya, pemimpin yang bersangkutan masih berideologi semi otoriter [memaksa pada pencapaian kerja yang ditetapkannya]. Fungsi kontrol sangat kuat dalam laporan - laporan yang bersifat administratif harus segera dirampungkan dan dilaporkan secara periodik.     

3. Filsafat Human.

Dalam filsafat ini, lebih maju dan lebih manusiawi dibanding teori atau aliran [mazhab] filsafat manajemen organisasi sebelumnya yang dipaparkan. Aliran ini sangat menghargai humanisme value dalam bekerja. Karena, pemimpinnya paham dan menyadari sifat - sifat dan juga tentang kebutuhan - kebutuhan hidup manusia. Filsafat ini menolak keras tentang upaya memesinkan manusia untuk memperjuangkan kepentingan pemimpinnya secara pribadi / kelompok. 

Menanam dan menancapkan motivasi dasar perjuangan menjadi hal penting untuk mempertebal mental petarung, membakar semangat dan berakibat pada tingginya produktifitas manusia - manusia yang bekerja di dalam organisasi yang bersangkutan. Mengaitkan teori motivasi dengan tingkat kebutuhan manusia. 

4. Filsafat Budaya.

Organisasi merupakan fenomena budaya. Tidak bisa dibantahkan oleh alasan apapun, setelah mendiskusikan tentang pentingnya memanusiakan manusia dalam berinteraksi pada suatu wadah. Unsur - unsur mengenai nilai sosial - budaya yang mengakar dan tumbuh di masyarakat menjadi hal yang sangat penting dalam aktifitas adopsi - inovasi [imitasi] nilai budaya organisasi yang diterapkan. Misalnya, masyarakat yang heterogen [kota - kota besar] memiliki karakteristik unik dengan sifat individualistik yang tinggi, kemudian masyarakat yang bercirikan homogen [desa - desa] memiliki kesadaran akan kolektifitas pada pimpinan / menggantungkan pada tokoh yang dihormatinya. Bagaimanapun juga, organisasi harus memiliki adekuatnya budaya kerja yang mendukung pada pencapaian visi misi dan tujuan organisasi dngan mempertimbangkan latar belakang dari subjek dalam organisasi ybs. 

5. Filsafat Arena.

Organisasi lahir sebagai sebuah KESEPAKATAN. Dalam konteks besar kecilnya ruang lingkup organisasi. Semua organisasi akan lahir setelah mendapatkan kesepakatan bulat dari pihak - pihak eksekutif yang mewakili kelompoknya. Dalam analogi ARENA, para eksekutif melakukan upaya dialogis / interaksi kepada pihak lain secara inklusif [terbuka] untuk mencapai kesepahaman gerak bersama. Sangat kental dengan benturan kepentingan antar kekuatan dan pengaruh yang berada dalam organisasi yang bersangkutan. interaksi ini pun bersifat dinamik dan terus - menerus, walaupun kesepakatan telah tercapai. 

Dalam perspektif ini, organisasinya dipimpin oleh seorang figur yang sangat demokrati. Juga organisasi adalah suatu sistem politik [political system] yang menjadi tempat bertarungnya leadership, debat gagasan, bermunculannya konflik - konflik, juga pendekatan politik para tokoh. 

Umumnya, terjadi di Lembaga tinggi Perwakilan Rakyat RI [DPRD, DPD, DPR dan MPR RI] dan lembaga lainnya yang serupa. 

6. Filsafat Adaptasi.

Menyambut hari kemudian yang tidak menentu. Dinamika dalam hidup bermasyarakat yang memiliki segudang keunikannya. Organisasi sebagai platform intelektual harus bergerak dan mencari solusi untuk menjawab tantangan zaman. Maka tidak ada kata lain, bagi organisasi untuk mampu menyesuaikan posisi pada waktu yang berlangsung. Konsep - konsep lama, belum tentu relevan sepanjang hayat. Olehnya, upaya inovasi sangat penting dalam menjaga eksistensi Learning Organization agar selalu survive dengan menggunakan metode manajemen strategis yang tepat. 


Dari aliran yang dipaparkan di atas. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing - masing. Olehnya, tidak pernah ada yang sempurna dalam dunia ini selain diri-Nya yang maha Kuasa dan Maha Sempurna. Akhir kata, semoga ini bisa menjadi manfaat bagi pembacanya dan menjadi amal baik untuk orang - orang yang berperan hingga rampungnya tulisan sederhana ini. Bila terdapat hal yang kurang mengenakkan, Penulis dengan penuh rasa hormat memohon maaf atas kekurangannya. 


Membaca. Melawan untuk Keadilan
Salam literasi. 

Selasa, 30 Januari 2018

PIS - PK BASUHLAH SISA JERIT TANGIS SAUDARA KITA DI ASMAT, PAPUA




Belakangan ini informasi kesehatan terus mengalir deras berdatangan dan meluas ke seluruh antero sendi - sendi yang ada, silih berganti di berbagai media yang dikonsumsi oleh akal budi rakyat yang beranekaragam dalam memahaminya. Sampai - sampai yang membuat telinga saya kiranya terus bergeming, kepala saya pun terus dihantam dan dipaksa untuk berpikir mencari solusi. Terakhir sekali beberapa hari belakangan, saya terima lagi sebuah kado pahit mengawali perjalanan di 2018, sebuah panggilan kemanusiaan dan tamparan keras pengingat bagi kita semua, yakni menghampirinya kabar duka datang dari saudara kita selaku penduduk surga Indonesia bagian Timur Raya. Jerit tangis, Saudara kita dari Kabupaten Asmat, Papua yang merupakan bagian dari 122 daerah tertinggal yang ditetapkan oleh Pemerintah melalui Perpres nomor 131 / 2015 tentang Penetapan Daerah tertinggal 2015 - 2019 yang perlu mendapat perhatian khusus dan ekstra dalam percepatan pembangunanntya. Sungguh kabar tersebut seakan tak henti - hentinya mengetuk - ngetuk pintu kamar dan mengoyak - ngoyak tempat tidur tanpa henti setiap saat. 


Berkat restu, motivasi dan doa orang tua, saya mendapat suntikan energi untuk berusaha keras semampunya menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa di bebagai sektor. Akhirnya berkat usaha dan doa, didapatilah sebuah informasi penting dari sebuah artikel Guru Besar bidang Kesehatan Masyarakat di Universitas Terkemuka di Indonesia, yang mengatakan Indonesia addalah surga dunia yang beragam sangat indah, berpenduduk hampir menembus angka 260 juta lebih dengan 1.100 bahasa yang berbeda dan memiliki lebih dari 714 suku bangsa yang beranekaragam dari Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Rote. Belum lagi ditambah pula dengan ketimpangan pola distribusi pembangunan yang belum merata di berbagai daerah, baik pembangunan yang bersifat Tangible / Intangible. 


Agh sangat komplek sekali semua ini. EITZZZ... Tetaplah tenang kawan!


Hal yang saya paparkan sekelumit tentang wajah Indonesia secara kasar tentu bukanlah sebuah maslah bukan? hal tersebut melainkan tantangan bagi kita selaku anak dan generasi penerus bangsa. Baik kita ini ialah seseorang yang berdedikasi tinggi sebagai guru, sebagai petani, sebagai pedagang, sebagai karyawan, sebagai ahli ekonomi, ahli hukum, ahli antropologi, ahli teknologi mesin, ahli fiskal, ahli filsafat, ahli perencanaan tata wilayah, politisi, ulama, dan atau pemimpin. Konon, semua tentu berperan penting sesuai porsinya. Okelah kita memang sudah terlalu sering berbeda pandang bukan? 


Entahlah, tapi kali ini dengan kesungguhan hati saya mengajak dan saya kira sudah saatnya kita menyatukan paham, kobaran semangat juang, usaha kita bersama untuk kemudian saling bahu - membahu memperkuat pondasi pembangunan nasional kita. 


Saya dapati juga informasi penting lainnya dari UNDP [United Nations Development Programme] yang berbicara tentang majunya secara merangkak, majunya dengan jalan setengah berhenti, majunya dengan jalan santai atau majunya dengan ambisius berlari cepat suatu negara dalam dinamika pembangunan nasionalnya di berbagai sektor, hanyalah dapat diwujudkan atas dukungan pilar - pilar kebutuhan dasar yang tangguh bukan?


IPM atau Indeks Pembangunan Manusia pun merupakan ujung tombak indikator yang mengukur negara kita ini berada di kategori mana. Tertinggalkah? Berkembangkah? atau sudah majukah? Ah Sudahlah saudaraku ini terlalu teoritik sekali katanya. Tapi, ingatlah baik - baik juga Saudaraku, IPM yang optimal hanya dapat terjadi bilamana terpenuhinya pembangunan komprehensif dari tiga pilar yang menunjangnya loh. Sektor Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Ekonomi kuncinya. 


Baiklah, Izinkan saya untuk mengakhiri perdebatan yang sering mewarnai bumi persada alam intelektualnya para pembelajar yang haus ilmu tentang mana yang paling penting, tegas bagi saya semua adalah penting, tegas bagi saya semua adalah penting.  Tapi coba bayangkan apakah bisa seorang anak - anak pergi sekolah untuk belajar sungguh - sungguh [berkonsentrasi menyerap ilmu] dalam keadaan sakit? Bisakah penduduk angkatan kerja bekerja produktif dalam keadaan sakit? 


Sudahlah cukup kita akhiri perselisihan semua ini saudaraku yang baik hatinya. Saya rasa sudah saatnya kita memandang sektor kesehatan ini secara seksama dari pisau analisis masing - masing agar kita saling menguatkan dan tidak berjalan sendiri - sendiri. 


Sudah jelas, Poin 5 Nawa Cita mengandung spirit api yang menyala dalam usahanya untuk mendongkrak percepatan pembangunan di berbagai lini kehidupan, kesehatan pun menjadi pilar perhatian yang sangat penting bagi pemerintah katanya. 


Mewujudkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia memanglah mudah sekali dikatakan dan dikonsepkan dalam suatu grand design pembangunan. Tapi belum tentu dalam tahap pelaksanaannya. Semua relatif dan perlu effort besar dari 3 elemen utama dan berbagai elemen komplementer lainnya yang mendukung. Indonesia sehat sebagai basis pilar utama sudah final tak terbantahkan harus diwujudkan untuk mendukung tercapainya Indonesia Pintar yang kemudia akan melahirkan ketahanan dan kesejahteraan perekonomian Bangsa kita. 


Indonesia Sehat lagi - lagi sebuah cita - cita luhur yang harus bersama kita perjuangkan, desain pemerintah berkolaborasi dengan stakeholder terkait telah melahirkan 3 platform penunjangnya. Pertama sekali, yakni pengarusutamaan pada Paradigma Sehat yang mana mengedepankan upaya Promotif dan Preventif, kedua dengan melakukan pemerataan [distribusi] dan penguatan pelayanan kesehatan ke seluruh penjuru Indonesia dan terakhir melalui perluasan Jaminan Kesehatan Nasional. Semua dibungkus dengan satu tujuan utama yakni terwujudnya Indonesia Sehat melalui pendekatan keluarga dengan memperhatikan model pendekatan Continuum of Care [daur kehidupan] yang tentu memiliki perbedaan kebutuhan dalam intervensinya. 


Program Indonesia Sehat - Pendekatan Keluarga adalah solusi cerdas yang digagas untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan bangsa, sebab PIS - PK dalam intervensi berbasis komunitas dilakukan secara kolaboratif dan komprehensif dengan mengenali lebih dalam dulu faktor - faktor intangible dan nilai - nilai kebudayaan lain yang hidup di masyarakat yang menjadi acuannya dalam bertindak, yang mungkin dalam beberapa kasus di wilayah tertenttu nilai - nilai kebudayaan atau kearifan lokalnya tidak mendukung perilaku positif kesehatan atau mempersulit upaya - upaya intervensi dari dunia kesehatan yang dilakukan. Kebanyakan model intervensi dari dunia kesehatan, selalu melihatnya dari kacamata dunia kesehatan. Tapi apakah penduduk setempat ikut merasakan dimandirikan dan dan disadarkan atas masalah yang dihadapi di depan matanya? Saya kira belum tentu. 

Hal - hal teknis seperti infrastruktur penunjang kesehatan; tidak adanya akses jalan seperti yang dialami penduduk Asmat yang terisolir dari sekitarnya, ketiadaan fasilitas pelayanan kesehatan, ketiadaan sdm kesehatan, ketiadaan logistik seperti perbekalan obat dan lain sebagainya hanyalah alasan klasik yang menunjukkan lemahnya komitmen Pengambil Kebijakan. 


Bukankah semua masalah sudah dipersiapkan sepaket dengan solusinya selama kita mau berusaha? 

Menyalahkan orang lain seperti indahnya kekhasan kebiasaan masyarakat dalam kelompok yang menganut budayanya tertentu, tidaklah elok. Ini hanya berkaitan dengan usaha sungguh - sungguh dan spirit menyelesaikan masalah ke akarnya. dan PIS - PK adalah solusi konkret bila dipahami secara utuh dan matang, yang didukung dalam pelaksanaannya secara sungguh - sungguh dengan membangkitkan kesadaran rasa persaudaraan terhadap sesama. 



Salam Juang bersama Kawan,
I am Public Health


____________________________________________
IKATAN SENAT MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA