Kamis, 07 Desember 2017


Telaah Kritis Permenkes No 53 tahun 2017 tentang Perubahan Atas Permenkes No. 40 tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Pajak Rokok untuk Pendanaan Pelayanan Kesehatan  Masyarakat yang dialihkan untuk BPJS Kesehatan yang kau sayang

==========================================

Kita semua menyadari dan memiliki keyakinan yang sangat kuat, setiap orang selalu menginginkan kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Maka dari itu negara - negara yang menjadi anggota Perserikatan Bangsa - Bangsa turut berpartisipasi mendesain konsep paradigma pembangunan komprehensif yang berkelanjutan [SDG's] pada 2015 - 2030 dengan 17 Tujuan, 169 target dan 241 indikator yang direncanakan untuk kemudian harapannya bisa diterapkan di masing - masing negara sebagai upaya menjamin masa depan dunia dan umat manusia yang lebih baik sebagai kelanjutan dari MDG's, yang dahulu hanya berfokus pada isu pembangunan di negara low and middle income countries saja sejak 2000 - 2015.

Indeks Pembangunan Manusia sebagai produk United Nation Development Programme [UNDP] menjadi garda terdepan alat ukur yang efektif dan efisien atas keberhasilan pembangunan di setiap tatanan kehidupan; kesehatan, pendidikan  dan kesejahteraan ekonomi merupakan pilar pembangunan manusia yang paling kokoh sejauh ini. Kita yakin, 2 pilar kokoh yang lain tidak dapat dicapai tanpa adanya kesadaran untuk mewujudkan kesehatan yang baik bagi setiap orang yang seharusnya didapatkan secara mudah dan murah.

Dalam hal ini, kami menyoroti secara seksama dan mengapresiasi pada poin 3 dari SDG's dengan Isu yang dibawa ialah Good Health and Well Being, yang mana pada isu tersebut menekankan pentingnya kesehatan sebagai modal pembangunan global yang responsif dan partisipatif yang harus mendapatkan perhatian sangat serius dari semua pihak.

SDG's menjadi referensi penting yang dipertimbangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam merencanakan pembangunan berkelanjutan, yang mana rencana aksi pembangunan tahun berjalan saat diterbitkannya SDG's kala itu oleh PBB pada 2015, Indonesia masih merujuk pada Nawa Cita Bapak Presiden - Wakil Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla yang secara spiritnya selaras dengan SDG's, yang kemudian pada tahun berikutnya diselaraskan antara implementatif Nawa Cita dan SDG's melalui diterbitkannya Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017 tentang pelaksanaan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan sebagai bentuk komitmen politik yang adekuat. 

Nawa Cita dengan 9 Agenda Prioritas Pembangunan yang terdiri dari;

1. Menghadirkan kembali Negara untuk melindungi segenap Bangsa, dan memberikan rasa aman bagi seluruh rakyat Indonesia.

2. Membuat Pemerintah tidak absen dalam tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya.

3. Membangun Indonesia dari Pinggiran, dengan memperkuat daerah - daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan.

4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem, dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya.

5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.

6. Meningkatkan produktifitas rakyat dan daya saing di Pasar Internasional.

7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dan menggerakkan sektor - sektor strategis ekonomi domestik.

8. Melakukan revolusi karakter Bangsa.

9. Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial di Indonesia.

Mengandung spirit api yang menyala untuk memperbaiki kondisi bangsa ke arah yang jauh lebih baik lagi, kesembilan agenda tersebut sejatinya terangkum dalam poin 5 sebagai indikator keberhasilan IPM, yakni upaya sadar terencana, tersutruktur dan sistematis serta berkelanjutan secara terus - menerus untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia seutuhnya. Adapun untuk mendukung pencapaian yang maksimal dari poin 5 ini diperlukan 3 pilar yang super kokoh untuk mendukungnya; Indonesia Sehat, Indonesia Pintar dan Indonesia Sejahtera.

Indonesia Sehat hanyalah dapat dicapai dengan maksimal, bilamana didukung oleh 3 pilar sakti yang menopangnya pula; pertama Pemerintah wajib mengupayakan pengarusutamaan pada paradigma sehat sebagai orientasi pembangunan kesehatan dan pembangunan nasional secara umumnya, kedua melakukan upaya penataan dan penguatan sistem pelayanan kesehatan dan ketiga menerapkan program Jaminan Kesehatan Nasional [JKN] sebagai upaya perwujudan Sistem Jaminan Sosial Nasional yang dikelola oleh BPJS Kesehatan.

Menurut data yang dirilis dari Kementerian Keuangan, sejak 2010 hingga 2015 bahwasanya tren anggaran bidang kesehatan terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hingga pada 2017 Anggaran kesehatan tetap dijaga di angka 5% dari total APBN 2017, dengan fokusnya untuk memperkuat upaya promotif dan preventif sebagai basis framework paradigma sehat, serta meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan yang mana kala itu Ibu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sedang melakukan penyesuaian alokasi belanja APBN secara ketat yang efektif, efisien dengan prinsip skala prioritas yang tepat sasaran dan tepat guna. 

Gairah spirit dan komitmen politik Jokowi - JK bagi Bangsa Indonesia menuju Indonesia Sehat yang dikuatkan dengan komitmennya sejak 2017 lalu, dengan mengedepankan Upaya Promotif dan Preventif dalam pembangunan kesehatan dan pembangunan nasional, kini sangat disayangkan perjuangan itu mulai meredup dengan menghadapi salah satu batu sandungan besar di depan pasang mata yang kita saksikan bersama atas diterbitkannya Permenkes No. 53 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Pajak Rokok untuk Pendanaan Pelayanan Kesehatan Masyarakat. 

Selengkapnya atas Permenkes yang dimaksud.  
; http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No._53_ttg_JUKNIS_Penggunaan_Pajak_Rokok_Untuk_Pendanaan_Kesehatan_Masyarakat_.pdf


Terbitnya Permenkes ini memberikan sinyal kuat, telah ditarik mundur kembali paradigma sehat kita, yang mana menjadi sakit lagi paradigma [kuratif] pembangunan kesehatan nasional kita ke depan. Disebutkan secara tegas dalam pasal di Permenkes No. 53 tahun 2017 tersebut, sebesar 75% dana pajak rokok akan dialokasikan untuk menolong Program JKN sebagai basis Upaya Kesehatan Perorangan [UKP] yang sedang terjepit kemelut defisit sebesar Rp 9 Triliun, yang mana kami sangat yakin hal itu terjadi dikarenakan ketidakadekuatnya sistem yang diterapkan oleh BPJS Kesehatan itu sendiri, sehingga dana Upaya Kesehatan Masyarakat [UKM] sebagai sumber daya implementasi paradigma sehat melalui upaya promotif dan preventif yang memang sejauh ini sedikit alokasinya pun harus dirampas pula untuk menutupnya. Kami sangat menyayangkan atas hal ini, yang kemudian kekhawatiran kami semakin hampir tak terbendung dimana nasib kesehatan ke depan akan berdampak luas pada lemahnya UKM di negeri tercinta ini, yang kiranya akan berkonstelasi pada derajat kesehatan masyarakat itu sendiri nantinya yang mana kita persiapkan untuk menghadapi tantangan Bonus Demografi 2035 menuju Indonesia sebagai Negara Maju. 

Untuk meredam kegelisahan ini, penulis berharap dengan hormat kiranya. Semua pihak menahan diri, dan tetap berkepala dingin yang mana tetap tegas dengan posisi sikap kita untuk memohon dengan hormat kepada Ibu Menteri Kesehatan Republik Indonesia untuk kembali mempertimbangkan kebijakan yang sangat kami sayangkan ini dengan lebih matang. 

Bilamana terjadi kekeliruan dalam tulisan ini, kepada Pemilik Bumi dan Isinya Penulis memohon ampunan atas segala kebodohan kehinaan dan kepada pembaca [blog lovers] bisa menghubungi lebih lanjut di 0857 - 1495 -8475. 

Salam

=====================================

Referensi:

BAPPENAS. 2008. "Lets Speak Out For MDG's, konten diakses pada 6 Desember 2017 dari https://www.bappenas.go.id/files/2113/5230/0886/english__20081123051012__976__1.pdf   

PERPUSNAS. 2016. "Sosialisasi Sustainable Development Goals di Perpustakaan", konten diakses pada 04 Desember 2017 dari http://ipi.perpusnas.go.id/wp-content/uploads/2017/02/Sosialisasi-sustainable-developtment-goals-sdgs-implementasi-di-perpustakaan.pdf

SETKAB. 2017. Peraturan Presiden Nomor 59 tahun 2017 tentang Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta: Kementerian Sekretariat Negara.

United Nation Development Programme Indonesia. 2015. "Konvergensi Agenda Pembangunan ; Nawa Cita, RPJMN dan SDG's" konten diakses pada 05 Desember 2017 dari http://www.id.undp.org/content/dam/indonesia/2015/doc/publication/ConvFinal-Id.pdf?download

Kemendagri. 2017. "JENDELA ; Prioritas Pembangunan Nasional dalam Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2017" Konten diakses pada 04 Desember 2017 dari http://www.bangda.kemendagri.go.id/bangda/pdf/20160726103528_MEI2016.pdf

BAPPENAS. 2017. "Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Aksi kegiatan Pembangunan Berkelanjutan". Konten diakses pada 05 Desember 2017 dari http://www.un.or.id/component/bdthemes_shortcodes/?view=download&id=fd0e6c8848ad8e5f5f3f40a957dd0b

Kementerian Keuangan. 2016. "Tren Alokasi Anggaran Kesehatan Indonesia 2010 - 2015" Konten diakses pada 05 Desember 2017 dari http://www.anggaran.depkeu.go.id/dja/athumbs/apbn/KESEHATAN1.pdf


Kementerian Keuangan. 2017. "Informasi APBN 2017" Konten diakses pada 05 Desember 2017 dari http://www.anggaran.depkeu.go.id/content/publikasi/2016%20BIB%202017.pdf

Rusady, Maya, 2017. "Peranan BPJS Kesehatan dalam Peningkatan Pelayanan Kesehatan" konten diakses saat agenda Rakerkesnas pada 01 Maret 2017.

Kementerian Kesehatan. 2015. 'Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015 - 2019" Konten diakses pada 06 Desember 2017 dari http://www.depkes.go.id/resources/download/info-publik/Renstra-2015.pdf

Green, W Lawrence dan Judith M. Ottoson, 2006 "A Framework for Planning Evaluation: PRECEDE - PROCEED Evolution and Application of the Model. Bahan Kuliah diakses dari pihak yang bersangkutan pada 2017.

The Center for the Advancement of Community Based Public Health, 2000. "An Evaluation Framework for Community Health Programs" Bahan Kuliah diakses dari pihak yang bersangkutan pada 2017.

Kementerian Keuangan. 2017. "Advertorial APBN 2018" Konten diakses pada 05 Desember 2017 dari http://www.anggaran.depkeu.go.id/content/publikasi/Advertorial%20RAPBN%202018.pdf











Minggu, 03 Desember 2017

Physical In-FACTivity Problem

Tugas yang dirindukan mahasiswa.
Hehehe :D
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Nama                 M. Fajarun. Amin
Semester            Lima jalan
Peminatan         Manajemen Pelayanan Kesehatan [AKK]
Mata Kuliah      Pengembangan Media Promosi Kesehatan


Outline kali ini bakal kita bikin jadi, 3 section lhoo.

1. Poster yang terilhami dari GERMAS

2. Enggel - enggel foto yang dijepret yang tentunya masih ada kaitannya dengan GERMAS, sist gan.

3. Deskripsi ringan keknya deh.


Check-in ajaa guys!


======================================================================
TUGAS PERTAMA




BIKIN POSTER

Ya itu udah, disini terpampang suatu poster minimalis yang punya pesan simbolik / himbauan bagi kita semua untuk mengajak NusantaRun bareng, realisasinya kapan. Tunggu aja

KITA, GERMAS-kan Masyarakat dan kita MASYARAKATKAN germas ini. Yuk



======================================================================
TUGAS KEDUA







Nah. Sudahlah. Tidak cukup keren untuk diriyakan.

#FYI

Ini foto yang dipaksakan, semoga dapet key concern pesannya yap blog lovers hehe


======================================================================
TUGAS KETIGA -- Deskripsikan dengan EFISIEN


HMM.. Baik lah.

Semula semua diawali dari Bismillah terlebih dahulu biar barokah yak, gan sist HE3H3H3.....


WHO / World Health Organization bilang dalam http://www.who.int/dietphysicalactivity/factsheet_inactivity/en/ pada 2008 mengatakan, "secara global, orang dewasa sebanyak 31% [28% Pria dan 34% Wanita] memiliki kebiasaan pola hidup mager / bekennya Physical inactivity yang berusia 15 tahun ke atas. Padahal setiap tahun, terjadi kematian yang dramatis sekitar 3,2 juta yang disebabkan oleh aktifitas fisik yang dihemat untuk diaktifitaskan lhooo....


Di website itu juga dijelasin nih, apa - apa ajaa si yang nyebabin pada mager aktifitas fisik?

kalo kepo banget, ini link selengkapnya http://www.who.int/dietphysicalactivity/factsheet_inactivity/en/


Yang iya sih,
Ada Faktor Internal dan Faktor Eksternal

kalo Faktor Internal

1. Kurangnya niat memanfaatkan waktu senggang untuk aktifitas fisik / olah raga.

yang mungkin disebabin ini misalnya, 

Transisi moda transportasi, yang dari aktif ke pasif. Maksudnya si, semua apa - apa jaman now serba di adain. Kayak mau makan bisa diorderin ajaa langsung dan sampe deh. Dan dua tiga empat seterusnya lain hal hehe


Kalo Faktor Eksternal

1. Peningkatan arus urbanisasi yang ngakibatin, Transisi tata dan norma lingkungan sosial yang ada.

Misal;

- Kekerasan

- Lalu lintas padat

- Kualitas udara rendah, polusi

- Kurangnya taman, trotoar dan fasilitas olah raga / rekreasi.

- Kebijakan berbasis populasi, multi-sektoral, multi-disiplin, dan budaya perlu diimplementasikan untuk meningkatkan tingkat aktivitas fisik secara global.

Atas hal ini, maka pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan membuat suatu program unggulan yang disesuaikan dengan perdinamikaan isu yang ada yakni GERMAS / Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

Banyak banget, penjelasan dan yang berkaitan dengan GERMAS.

Selengkapnya cek ajaa di sini yak hehehe http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=16111500002


Ayo GERMAS-kan masnya itu mbak! embak juga ehehehe


#Ciyeee yg minta di tag. @uinpraktik
#wkwkwBidong


===============================
Sehat semua keluargaku, Kamu, Indonesiaku.

Jumat, 01 Desember 2017


BELAJAR dari Muhammad Yunnus



Sumber: www.google.com/muhammad_yunnus

Ketika melihat, screen wajah sang Ayah yang sangat mencintai anak - anaknya dari kejauhan dengan ikhtiarnya untuk mengembalikan kemuliaan manusia kembali dengan membumikan konsep abadinya yakni memanusiakan manusia melalui BISNIS SOSIAL. Dunia kini terasa menjadi semakin bergairah dan optimis dibuat olehnya.

Professor. Muhammad Yunnus, B.A., M.A., Ph.D nama lengkapnya ialah sosok panutan seorang Ayah bagi kami,  salah satu guru kehidupan semesta dan sekaligus pejuang kemanusiaan yang pada 2006 lalu mendapat gelar kehormatan Nobel perdamaian dunia dengan Grameen Bank-nya yang dianggap sangat berpengaruh pada pemberantasan kemiskinan di seluruh dunia yang menjadi isu penting sepanjang peradaban manusia. 


Prof. Muhammad Yunus ialah putra bangsa terbaik yang menjadi aset besar milik Negara Bangladesh, beliau dilahirkan pada 28 Juni 1940 di Desa Bathua Chittagong, Benggala Timur Bangladesh. Putra Bangladesh dari pasangan Haji Muhammad Dula Mia dan Sofia Khatun yang satu ini pernah menikmati proses tempaan yang memengaruhi jalan panjang cerita hidupnya mulai dari belajar di sekolah dasar Lambadzar, kemudian M. Yunus kecil selama tahun - tahun sekolahnya melewati hari - harinya dengan aktif sebagai pramuka yang berjiwa penjelajah.

Pada 1952 pergi ke Barat Pakistan dan India, dan pada 1955 pergi ke Eropa, Amerika Serikat dan Kanada lalu berlanjut pada 1959 menjelajah ke Filipina dan Jepang untuk mengikuti kegiatan jambore. Yang kemudian benturan - benturan kisah hidupnya semakin lengkap pasca diterimanya di Dhaka University, Bangladesh. Yang kemudian pada tahun berikutnya pasca kelulusannya, beliau menerima beasiswa Fulbright di Universitas Vanderbilt dengan fokusnya menggeluti bidang ilmu perekonomian. Hingga gelar Ph.D yang diraihnya pada 1969 mengantarkannya menjadi seorang asisten Professor ekonomi sejak 1969 - 1972 di Middle Tennesse State University, USA. Hingga kecintaan nasionalisme dan penghormatan dirinya pada negara yang menjadi tempat kelahirannya dan membesarkannya, kemudian membawa pulang kembali sang ekonom besar ini untuk pulang ke rumah yang mengenalkannya pada dunia yang sangat luas, untuk memimpin Departemen Ekonomi di Chittagong University, Bangladesh.

Fakta sejarah pun punya cerita, ternyata tidak semudah itu jalan yang dilalui oleh M. Yunnus untuk bisa kembali ke kampung halamannya tercinta. Sebab sejak dirinya mulai tumbuh besar, dilingkungannya telah terus berlangsungnya konflik internal Bangsa Bangladesh yang dimulai sejak runtuhnya kerajaan Inggris pada 1947. Dimana pada 1947 India melahirkan satu negara baru yakni Pakistan dengan dua bagian wilayahnnya; Zona Pakistan Barat dan Zona Pakistan Timur [mayoritas penduduk Benggala yang terintimidasi]. Pada tahun itulah tabuh genderang dimulai, yang mengawali konflik berkepanjangan ini, yang semuanya berawal dari kepentingan politik dunia Barat atas Bangladesh yang tidak ingin hilang dominasinya.


Dimana Benggala yang kala itu dibagi sebagai sebuah provinsi di Pakistan Barat yang kemudian dinamai sebagai Pakistan Timur. Dhaka dinyatakan sebagai Ibu kotanya. Meskipun memiliki sumber daya dan dominan demografis Pakistan Timur yang lebih memadai, struktur pemerintahan dan militer Pakistan sebagian besar didominasi oleh kelompok kelas atas Barat yang berkedudukan di Zona Pakistan Barat

Pemerintahan yang didominasi oleh kelas atas Barat ini, mengambil tindakan yang sangat disayangkan seperti diskriminasi keadilan ekonomi, politik, keamanan, dan sosial budaya, yang diperparah dengan menerapkan Bahasa Urdu sebagai satu -satunya bahasa resmi yang kemudian memicu ketidakpuasan besar - besaran di kalangan Pakistan Timur yang kemudian melahirkan ketegangan konflik antara Pakistan Timur dan Pakistan Barat. Tepat, pada 21 Februari 1952 Bangsa Pakistan Timur bersatu bangkit untuk memprotes keputusan ini, hingga pada suatu ketika aparat kepolisian menembakkan pelurunya kepada bangsa Pakistan Timur ini dan menewaskan beberapa siswa karena berjuang membela bahasa mereka. Perjuangan dari para martir ini yang pada akhirnya kini setiap 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.

Ketidakpeduliaan Barat terhadap isu dominasi Ekonomi dan Budaya ini pun mengakibatkan terkonsolidasinya  kekuatan politik di Pakistan Timur  dengan namanya yang kita kenal ialah Liga Awami sebagai suara politik yang dipimpin oleh Syekh Mujibburahman. Pada 7 Maret 1971 dalam pidatonya yang sangat berspirit di hadapan ratusan ribu bangsa Pakistan Timur, menyerukan persatuan dan bersiap siaga untuk melakukan perjuangan perlawanan habis - habisan atas pendudukan Pakistan demi pembebasan dan kemerdakaan sesungguhnya sebagai bangsa yang terhormat.  

Setelah banyak kerusuhan politik dan diskriminasi provinsi yang terjadi, akhirnya Syekh Mujibburahman memproklamirkan dan mengumumkan kemerdekaan Bangladesh sebelum ditangkap pada jam - jam awal pada 26 Maret 1971 oleh militer Pakistan. Presiden Yahya Khan dari Pakistan mengambil tindakan sewenang - wenang dengan melakukan operasi militer Search Light pada penduduk sipil Bangladesh yang tidak berdosa.

Pemerintah penyelamat Bangsa Bangladesh yg dibentuk oleh Liga Awami mengetahui ditangkapnya Syekh Mujibburahman, mengambil tindakan strategis dengan mengukuhkan Tajuddin Ahmad sebagai perdana menteri dan Syed Nazrul Islam sebagai Presiden Pelaksana pada 17 April 1971 untuk mengisi status quo

Sebuah kekuatan perlawanan yang dikenal sebagai Mukti Bahini (Freedom Fighter) dibentuk dari Pasukan Bangladesh (terdiri dari pasukan reguler Bengali) yang bersekutu dengan pejuang sipil. Dipimpin oleh Jenderal M. A. G. Osmani, Pasukan Bangladesh diorganisir menjadi sebelas sektor dan, sebagai bagian dari Mukti Bahini, melakukan perang gerilya besar-besaran melawan Angkatan Bersenjata Pakistan. Selama perang ini, seluruh dunia berduka karena harus menyaksikan peristiwa genosida Bangladesh 1971, di mana Angkatan Darat Pakistan dan milisi religius sekutunya melakukan penghilangan skala luas warga sipil, intelektual, pemuda, pelajar, politisi, aktivis, dan minoritas agama Bengali.

Di tengah pengorbanan jiwa-jiwa Bangladesh yang tak terhitung jumlahnya, Angkatan Darat Pakistan akhirnya menyerah kepada Pasukan Sekutu Bangladesh-India pada tanggal 16 Desember 1971. Perang Pembebasan Bangladesh selama sembilan bulan telah dimenangkan pada hari itu. Dan Bangladesh, dengan banyak janji dan harapan, memulai perjalanannya yang mulia


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
PERAN STRATEGIS MUHAMMAD YUNNUS


Image result for diplomatik muhammad yunus peraih nobel kepada ASSemasa Muhammad Yunnus belajar [kuliah] dan mengumpulkan pengetahuan di Middle Tenese State University, USA. Beberapa literatur mengatakan Yunus adalah seorang pembelajar ambisius yang merasa canggung terhadap wanita berkaitan dengan asmaranya, hingga pada suatu ketika dikenalkan oleh temannya dan menikah dengan wanita berkebangsaan Rusia yang sedang mengakhiri studinya S.2 Sastra di kampus dimana Muhammad Yunus Mengajar yang bernama Vera Vorostenko dan membangun rumah tangganya yang damai di sana meskipun hanya berumur pendek.

Pada 1971, Yunus mendengar kabar tidak menyenangkan dari kampung halamannya bahwa Pakistan Timur yang mayoritas ialah penduduk bangladesh diserang dan ditekan untuk menyerah oleh Pakistan Barat atas upaya gerakan kemerdakaan yang diperjuangkan oleh Pakistan Timur. Pakistan Timur pun melakukan perlawanan yang heroik di internal Negara Pakistan dan banyak terjadi peristiwa pertumpahan darah yang mengerikan.

Muhammad Yunnus yang mengetahui situasi yang bergejolak di sana, maka bersama 6 kawannya dari Pakistan Timur cepat tanggap melakukan upaya diplomatik di Washington DC, Amerika Serikat dan melakukan upaya - upaya lobi secara massif pada media pers dan duta - duta besar Negara dari seluruh dunia untuk mendukung kemerdekaan Bangladesh secara de facto dan de jure yang mayoritas penduduknya berasal dari penduduk Benggala / Bangsa penduduk lama.

Peristiwa yang menjadi luka bersama di tanah Pakistan pada 1971 ini, mengorbankan melayangnya 3 juta jiwa dan mengungsinya 10 juta penduduk ke India dengan diraihnya kemerdekaan bangsa Benggala yang kemudian membentuk negara yang bernama Bangladesh atas intimidasi Pakistan Barat sebagai afilasi kaki tangan Barat.


Perjuangan pun tak kunjung usai sampai di situ.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
PERJUANGAN YUNNUS PASCA DIRAIHNYA KEMERDEKAAN BANGLADESH SECARA MUTLAK DI BIDANG EKONOMI DAN KESEHATAN 


Image result for Muhammad Yunus kreditur bagi miskinSebagai bangsa yang baru saja merdeka, Bangladesh disibukkan dalam upaya rekonsiliasi dan rekonstruksi penguatan sistem kelembagaan pemerintahannya yang partisipatif dan responsif ; brainware, hardware dan software. Kondisi yang berantakkan merupakan suatu hal yang sangat wajar adanya, dimana semua pasang mata menyaksikan dan berusaha untuk saling menguatkan bahu - membahu membangun negara yang dicintainya ini, Bangladesh dari nol dengan spirit api yang membara sebagi bangsa yang ingin benar - benar merdeka.

Tak dapat dipungkiri, sebagai negara yang baru dibentuk dan baru merayap membangun ditambah beban traumatik pasca perang saudara yang terjadi menjadi challenge yang dihadapi Bangsa Bangladesh pada akhir 1971. Perekonomian yang lemah sehingga menimbulkan kemiskinan yang menjamur dimana - mana merupakan suatu kisah tragis yang benar adanya kala itu. Kemiskinan, Pengangguran, kelaparan, sulitnya akses terhadap air bersih, kesehatan yang buruk dengan diperparah oleh gizi buruk yang berkepanjangan menjadi kesangsian yang dilalui bangsa Bangladesh menuju kehormatan bangsanya di kemudian hari saat ini.

Yunnus sebagai tokoh ilmuwan yang disegani, berusaha untuk membuat perbaikan komprehensif secara bertahap untuk Bangladesh diawali dengan masuknya dirinya di Komisi Perencanaan Pembangunan Nasional Bangladesh kala itu namun karena ia tidak mendapat posisi yang strategis, akhirnya ia tidak dapat berbuat banyak di lembaga yang bersangkutan untuk mengabdikan dirinya lebih pada negara tercintanya, Bangladesh.

Meskipun tidak mendapat posisi strategis, beliau ikhlas dan terus menyampaikan usulan - usulan gagasan solutifnya untuk perencanaan pembangunan nasional di Bangladesh, adapun tidak bisa berbuat banyak karena persoalan kewenangan, lantas baginya itu tidak berpengaruh sedikit pun dan membuat sang creator ini patah surut semangat dan lantas berdiam diri melihat banyaknya air mata silih berjatuhan yang disaksikannya, sebab situasi pelik sangat kompleksnya masalah yang dihadapi bangsanya; Kemiskinan, kelaparan, sulitnya akses terhadap air bersih dan gizi buruk yang merajalela. Beliau menahan tangis, perih  bercampur amarah dalam diri yang ditahan dan merenung di setiap malam.

Hingga pagi hari, ketika dirinya sedang berjalan menuju suatu tempat. Beliau menemukan seorang pemulung yang ia ketahui ialah saudara sebangsanya [Bangladesh] yang hampir mati kelaparan karena kehinaan dari kaca mata sosial yang tidak diinginkan oleh siapa pun menimpa dirinya. Muhammad Yunus pun, datang menghampiri dan berdialog dengannya dengan lembut menanyakan masalah yang dihadapinya yang pelik ini dan siap mendengarkan keluh kesahnya.

Setelah diketahui masalah yang dihadapinya, Muhammad Yunnus pun memberikan uang tunai padanya untuk sekedar bisa membeli makanan beberapa hari ke depan. Tiba pulang di rumah, Yunus merenungkan segmentasi peristiwa yang ia alami tadi pagi. Seketika beliau mendapatkan sebuah ide yang cukup gila bagi orang - orang normal pada umumnya mungkin.

Di awali dengan dirinya mulai meminjamkan uang pribadinya kepada para pemulung di sekitar kediamannya dengan bunga 0% tanpa jaminan apapun dan mekanisme pengembalian melalui cicil secara kolektif yang didasari atas trust yang tinggi, didapatkan 9 saudara sebangsa Bangladesh dengan aktifitasnya yang semula memulung, beralih aktifitas untuk menjual suatu produk / makanan siap saji. Alasan semula mengapa beliau mengambil tindakan spektakuler seperti itu, sederhana sekali argumentasinya yakni didasari keyakinan dirinya atas keinginan setiap orang yang lemah untuk memperbaiki kehidupannya dan lingkungan sekitar yang tentu hampir dipastikan ingin mendukungnya semampunya. Beberapa waktu Prof Yunnus pun mengamati aktifitas ini secara teliti, di luar prediksi dirinya, ternyata kelancaran pengembaliannya pun hampir menyentuh angka 100%, maka Yunnus menyadari ini ialah suatu hal yang sangat penting untuk kita perjuangkan yakni bagaimana menciptakan perbankan untuk kaum miskin / yang kurang beruntung di Bangladesh kala itu sebagai apa yang kita sebut dengan BISNIS SOSIAL dalam rangka perwujudan kesalaehan sosial. 

Bermodal idelisme yang kokoh, beliau mendesain konsep rencana untuk membangun BISNIS SOSIAL ini , dengan menciptakan pola pengendalian dan bagaimana agar para peminjam yang notabenenya berangkat dari kelas tidak mampu bisa untuk meminjam modal untuknya berusaha. Dalam perjalanannya ini, beliau dihujani banyak kritikan destruktif atas pemikirannya, sang creator hebat tetap tegar pada pendiriannya dan berusaha keras untuk bagaimana mencarikan kreditur yang mau meminjamkan uang / modal kepada nasabah tanpa adanya jaminan yang perlu diberikan, dan pembayarannya dicicil dengan dipikul secara kolektif bersama - sama dengan bunga yang sangat - sangat rendah sekali.

Asumsinya, bila ada jaminan maka nasabah [kaum papa] tidak akan sanggup meminjamnya karena tidak punya jaminan apapun selain komitmen janji rasa kepercayaan antar sesama yang diikrarkan.

Melalui berbagai upaya yang ditempuhnya Muhammad Yunnus mendapatkan mitra kreditur yang berkenan bekerja sama dalam bisnis sosial ini saat itu, Perusahaan Minuman Yogurt sebut saja namanya, meski hanya baru berkutat dalam skala yang terbatas. Hal ini dimaksimalkan oleh Yunnus untuk menjadikannya cikal bakal Grameen Bank yang menjadi institusi pengelolanya. Selain itu diawal bekerja sama dengan Yoghurt, diketahui bahwa terjadi krisis makanan yang bergizi sehingga menimbulkan gizi buruk yang sangat luas. Yunnus pun berpikir untuk memfortifikasi/menambah zat gizi di dalam minuman Yoghurt yang kemudian dibagikan gratis pada anak - anak Bangladesh untuk memenuhi kecukupan gizi mikronya dan selama 9 tahun kemudian menunjukkan  hasil yang sangat memuaskan atas upaya cerdas itu yang terbukti mampu menekan kematian akibat gizi buruk yang mestinya menjadi beban dan yang harus dihadapi oleh Bangladesh saat itu.

Hingga akhirnya, Grameen Bank melakukan ekspansi dan bekerja sama dengan Danone Group untuk melakukan upaya yang memberikan manfaat lebih luas lagi bagi masyarakat Bangladesh khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
#Fyi.
Konten diadopsi dari berbagai referensi yang mungkin terdapat kekeliruan dan salah tafsir.


Semoga bermanfaat. dan segera lahir Muhammad Yunnus Muhammad Yunnus lainnya.


Wa Allahu A'lam bi al-Sawab

Kepada-Mu kami berlindung. 


Salam,








Referensi: 


Banker to the Poor: The Autobiography of Muhammad Yunus, Founder of Grameen Bank, by Muhammad Yunus, Oxford University Press, ISBN 0-19-579537-7


https://www.nobelprize.org/nobel_prizes/peace/laureates/2006/yunus-bio.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Yunus

https://www.nelsonmandela.org/images/uploads/Yunus_Bio_LT.pdf

http://visitbangladesh.gov.bd/about-bangladesh/history-of-bangladesh/

https://www.youtube.com/watch?v=P0djA0eST7E, Muhammad Yunus - Berpikir kecil, jangan jadi budak aturan.